WARTOS

INFO SELEB

MUSIK

TIPS

BUDAYA

PASUNDAN EVENT

» » Sejarah Gamelan Degung Cianjur

Sejarah Gamelan Degung Cianjur
Sejarah Gamelan Degung Cianjur

Ada beberapa gamelan yang ada dan terus berkembang di jawa barat ataupun di cianjur yaitu Gamelan Salendro, Pelog dan Degung.
Gamelan salendro biasanya di gunakan untuk mengiringi pertunjukan wayang, tari, jaipongan, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Gamelan Pelog fungsinya hampir sama dengan gamelan salendro, hanya saja kurang berkembang di masyarakat dan jarang di miliki oleh grup-grup kesinian di masyarakat. Dan ada kemungkinan besar kalau gamelan degung ini yang berkembang di masyarakat. Gamelan itu sudah tidak di mainkan kirakira 35 – 40 tahun dan sudah tidak ada yang sanggup untuk menabuhnya karena dianggap mempunyai nilai mistis. Tetapi gamelan koromong ini masih terpelihara dengan baik.
Degung cianjur adalah salah satu gamelan khas dan asli hasil kreativitas masyarakat sunda, perkiraan masyarakat sunda yang mengatakan bahwa degung merupakan music kerajaan ataupi kadaleman di hubungkan juga dengan kirata basa, yaitu bahwa kata “degung” berasal dari kata “ngadeg”(bediri) dan “agung”(megah) atau “pangagung”(menak; bangsawan), yang mengandung pengertian bahwa kesenian ini digunakan bagi kemegahan (keagungan).
Dahulu gamelan hanya di tabuh secara gendingan (instrumental), bupati cianjur melarang degung memakai nyanyian (vocal) karena membuat suasana kurang serius. Tetapi ketika bupati ini pindah pada tahun 1920 menjadi bupati bandung, maka perangkat gamelan degung di pendopo cianjur juga turut di bawa bersama nayaganya, dipimpin oleh Idi. Dan semenjak itulah gamelan degung yang bernama pamagersari ini menghiasi pendopo Bandung dengan lagu-lagunya.
Melihat dan mendengarkan keindahan degung, salah seorang saudagar pasar baru bandung keturuna Palembang, Anang Tayib, merasa tertarik untuk menggunakannya dalam acara hajatan uang diselenggarakannya. Kebetulan dia adalah sahabat bupati tersebut. Dan itu yang membuat dia mengajukan permohonan kepada bupati agar diijinkan menggunakan degung di tempat hajatannya. Dan diijinkan oleh bapak bupati, mulai sst itulah degung digunakan dalam hajatan.

Diluar Indonesia pengembangan degung dilakukan oleh perguruan tinggi dan beberapa musisi, misalnya Lingkungan Seni Pusaka Sunda Universitu Of California (Santa Cruz. USA), musisi Lou Harrison (USA). Dan Rachel Swindell bersama mahasiswa lainnya di London (Inggris), Paraguna (Jepang), serta Evergreen, John Sidal(Kanada). Ada sebuah set gamelan degng milik University of Melbourne yang seringkali digunakan oleh sebuah komunitas pencinta music sunda untuk latihan dan pementasan di festival festival.

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post