WARTOS

INFO SELEB

MUSIK

TIPS

BUDAYA

PASUNDAN EVENT

» » Ratusan Penggarap Masih Lakukan Aktivitas Di TNGP

Pasundanradio.com - Sebanyak 533 orang penggarap melakukan aktivitas penanaman di Gunung Putri. Mereka menggarap tanah yang merupakan lahan konservasi yang termasuk Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Padahal, menurut aturan, lahan konservasi dilarang untuk digarap dan dieksploitasi.

Dari data yang dimiliki Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, lahan konservasi seluas 125 hektare di Gunung Putri, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango para penggarap telah lama melakukan aktivitasnya. "Para penggarap ini diketahui sudah melakukan aktivitas sejak tahun 2002 lalu. Namun sebelumnya status Gunung Putri adalah kawasan hutan produksi terbatas, sehingga masih diperbolehkan untuk melakukan penggarapan." Demikian yang dikatakan Heri Subagiadi, selaku Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, belum lama ini.

Meski kini status tersebut berubah sejak tahun 2004, seharusnya penggarap sudah tidak melakukan aktivitas di kawasan tersebut.
"Status itu berubah sejak 2004 berdasarkan SK174 tahun 2003 menjadi hutan konservasi. Ketika jadi konservasi aturannya berbeda, di Taman Nasional enggak boleh ada kegiatan eksploitatif," jelasnya.

Minimnya sosialisasi diakui Heri, menyebabkan para penggarap tetap bertahan. Malah, dalam kurun waktu sepuluh tahun, penggarap yang asalnya berjumlah sekitar seratus orang malah semakin bertambah hingga mencapai 533 penggarap.

Dirinya menambahkan, eksploitasi yang dilakukan oleh penggarap di lahan konservasi, berpotensi menyebabkan bencana longaor dan juga banjir. Karena lahan di bagian hulu tersebut menjadi gundul, dan tidak ada tanaman kuat yang dapat menahan longsor atau banjir. "Seperti pada Desember tahun 2012 lalu dimana di Pacet pernah ada banjir bandang," tuturnya.

Disisi lain, Kadishutbun Kabupaten Cianjur, Mochamad Ginanjar menuturkan, penggarapan di lahan konservasi jelas bertentangan dengan aturan. "Selain berpotensi bencana karena gundulnya hutan, iritasi air karena pestisida pun sangat dimungkinkan. TNGGP pun, sudah melakukan upaya pengalihan profesi dan sosialisasi supaya penggarap tidak menggarap lagi di lahan konservasi," ucapnya. (FI)

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post