WARTOS

INFO SELEB

MUSIK

TIPS

BUDAYA

PASUNDAN EVENT

» » JELANG PIALA DUNIA - Brasil Perangi Prostitusi Anak Jelang Piala Dunia

Wisata seks adalah momok yang menghantui kawasan miskin di Brasil jelang Piala Dunia. Pasalnya prostitusi anak sedang merajalela. Kebanyakan pelanggannya adalah orang asing.
Ketika malam larut, Adriana de Morais berpatroli di klub malam dan bar di Natal, salah satu kota penyelenggara Piala Dunia 2014. Misinya adalah mencari pekerja seks komersil di bawah umur dan berupaya menggeret mereka dari jalanan.
Ketika bergerak di jalan-jalan kota metropolitan yang terkenal karena kehidupan malamnya itu, Morais dan timnya tampil dengan kaos hitam berkerah yang bersematkan emblem satuan pelindung anak-anak. Keberadaan mereka terlihat kontras dengan ratusan pejalan kaki yang berbusana ketat.
Sekitar 600.000 pelancong asing akan membanjiri Brasil selama putaran final Piala Dunia, mulai 12 Juni mendatang. Otoritas setempat khawatir, kehadiran insan sepakbola itu akan menggenjot pertumbuhan wisata seks dan prostitusi anak.

Kota Wisata Jaring Wisatawan Seks

"Piala Dunia akan mengundang banyak orang dari luar. Kami benar-benar khawatir atas wisata seks," kata Morais.

Sejauh ini belum ada statistik resmi yang merekam prostitusi anak di Brasil. Satu-satunya data valid datang dari catatan telepon hotline yang disediakan pemerintah untuk membantu kekerasan terhadap anak. Jumlahnya mencapai 124.000 telepon selama 2013. Sekitar 26 persen di antaranya bersumber pada aduan kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur.
Sebagian besar aduan datang dari kawasan miskin di timur laut Brasil. Wilayah yang dikenal dengan laut berwarna biru muda dan pantai berpasirkan putihnya itu belakangan mulai rajin disambangi pelancong asing.

Taiana dan Ribuan lainnya

Setahun silam, Taiana adalah salah seorang gadis muda yang menjajakan tubuhnya di salah satu jalan kota Natal. Kisahnya mencermikan nasib ribuan remaja putri Brasil yang terjebak di dalam bisnis gelap itu.
Kerap mendapat kekerasan di rumah, Taiana melarikan diri kala berusia 10 tahun. Untuk bertahan hidup ia berdagang seks. Untuk itu ia mendapat uang, atau sekedar makan malam.

"Kami bisanya pergi ke Ponta Negra (kota wisata di dekat Natal). Teman-teman dan saya akan menunggu mobil berhenti dan memanggil. Kami lantas pergi dengan mereka. Seringnya yang memanggil saya orang asing. Tidak banyak orang Brasil," katanya.
Kini, pemudi 18 tahun itu berusaha membangun kehidupan baru. Berkat program yang membantu pekerja seks di bawah umur, Taiana bisa melanjutkan bangku kuliah di jurusan manajemen perhotelan.



«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post