WARTOS

INFO SELEB

MUSIK

TIPS

BUDAYA

PASUNDAN EVENT

» » Warga Cikalong Kulon Tuntut Perusahaan Penggemukan Sapi Ditutup


(93,1 Pasundan Radio-Cianjur) Ratusan warga dari Kecamatan Cilakong Kulon dan Kecamatan Mande, Kabupaten Cianjur berunjuk rasa di depan Kantor DPRD Cianjur, Jalan Abdullah Bin Nuh, Cianjur, Rabu (29/2). Mereka menuntut PT Pasir Tengah, perusahaan penggemukan sapi di Cikalong Kulon segera ditutup.
Pasalnya, perusahaan tersebut telah membuang limbah kotoran sapi di Sungai Cikundul yang selama ini menjadi sumber air bersih warga. Akibat pencemaran tersebut, puluhan warga mengalami gatal-gatal dan petambak ikan jaring apung di Cirata mengaku gagal panen, karena ikan yang akan dipanen mati semua.
Salah seorang petani ikan diperairan Maleber Cikalongkulon Cianjur  Ali, sengaja membawa bukti ikan-ikan yang mati karena air dari sungai sudah tercemar. Dia merugi puluhan juta rupiah. Ikan yang seharusnya bisa dipanen semuanya mati. Harapannya ingin anggota DPRD membantu  untuk mengeluarkan rekomendasi perusahaan tersebut ditutup
Sedikitnya ada empat desa yang terkena dampak langsung dari pembuangan limbah sapi tersebut. Di antaranya Desa Mentengsari, Desa Sukagalih, Desa Gudang, Desa Jatisari, Kecamatan Cikalong Kulon dan Desa Mande, Kecamatan Mande, Kabupaten Cianjur berunjuk rasa di depan PT Pasir Tengah, Desa Jatisari, Kecamatan Cikalong Kulon.
warga lainnya, Enang menuturkan "Sudah berkali-kali kami melakukan protes ke perusahaan tersebut. Namun, hingga kemarin mengadakan aksi unjuk rasa di depan perusahaan belum juga ditanggapi. Apalagi limbah ternak yang mencemari sungai sudah mengakibatkan sebagian warga yang terpaksa menggunakan air sungai tersebut gatal-gatal dan diare.
Enang mengatakan tidak saja menyebabkan gatal-gatal, seluruh selokan dan gorong-gorong yang ada di perkampungan dipenuhi kpotoran sapi. Bahkan sumur warga juga sudah tercemari kotoran sapi. "Bagaimana kita mau ibadah dengan sah kalau air wudhu kita saja ada kotoran sapi. Itu kan najis dan menganggu ibadah kami," ujarnya.
Warga dua kecamatan sepakat tidak meminta ganti rugi. Mereka memberi waktu perusahaan untuk memperbaiki Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL)-nya agar tidak lagi limbah mengalir ke sungai.
"Kami lakukan aksi ini sebagai puncak kekesalan. Pasalnya, tidak hanya air sungai yang tercemar. Puluhaan hektare sawah yang radiusnya sekitar 4-5 km juga mengalami gagal panen. Selain itu, bagi para petani jaring apung juga mengeluhkan kolamnya tercemar bahkan rugi ratusan juta rupiah," ucapnya.
Setelah melakukan orasi, perwakilan warga langsung diterima oleh Komisi III DPRD Kabupaten Cianjur untuk melakukan dialog. Dalam pertemuan tersebut, Ketua Komisi III DPRD Cianjur, Rudi Syahdiat mengatakan pihaknya akan langsung meninjau lokasi terkait hal yang dikeluhkan warga.
"Setelah kami melakukan peninjauan dan apa yang dikeluhkan warga memang benar, bukan tidak mungkin kami merekomendasikan untuk menutup perusahaan tersebut jika memang berdampak lingkungan, kesehatan, sumber air bagi warga," katanya.

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post