Slider

DEDENGKOT

WARTOS

INFO SELEB

MUSIK

TIPS

BUDAYA

PASUNDAN EVENT

Polisi Akan Tindak Tegas Pelanggar

Pasundanradio.com - Dalam rangka meningkatkan kedisiplinan dan juga pemahaman berlalu lintas, Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Cianjur menggelar Operasi Patuh Lodaya 2015. Operasi tersebut dilaksanakan mulai tanggal 27 Mei hingga 9 Juni 2015.

Dikatakan Kasatlantas Polres Cianjur, AKP Didin Janudin, bahwa pihaknya akan melakukan tindakan tegas berupa tilang ditempat kepada setiap pelanggar.

"Giat ini untuk meningkatkan kesadaran dan disiplin para pengguna jalan terutama menjelang bulan Ramadhan. Semua pelanggar akan kita berikan tindakan tegas berupa tilang," kata Kasatlantas Polres Cianjur, AKP Didin Janudin, Kamis, (28/5/15).

Didin menambahkan, tindakan tegas yang diberikan sebagai upaya agar para pengguna jalan memahami aturan lalu lintas serta mendisiplinkan pengguna kendaraan.

"Tingkat kesadaran dan disiplin warga berlalu lintas dinilai masih rendah. Diharapkan warga bisa memahami dan mematuhi aturan lalu lintas untuk menekan angka kecelakaan," tambahnya.

Dijelaskan Didin, ada beberapa atau lokasi yang menjadi perhatian dalam Operasi Patuh Lodaya 2015 ini.

"Beberapa lokasi yang mempunyai kepadatan kendaraan menjadi prioritas, diantaranya seputaran Terminal Pasirhayam, dan seputaran eks Terminal Muka," jelasnya.

Seluruh personil Satlantas Polres Cianjur diterjunkan dalam Operasi Patuh Lodaya itu. Pihaknya berharap, warga tetap mematuhi rambu lalu lintas yang ada dan melengkapi kelengkapan kendaraan.

"Kelengkapan berkendaranya harus dilengkapi, rambu juga dipatuhi. Sebab, jika melanggar tindakan tegas akan diberikan," ucapnya. (FI)

KPU Cianjur Masih Hitung Jumlah Logistik

Pasundanradio - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Cianjur masih menghitung jumlah logistik yang ada untuk dipergunakan pada pilkada Desember nanti. Pihaknya belum bisa memastikan berapa jumlah logistik yang tersedia baik kotak suara maupun bilik suara.

"Kotak suara mudah-mudahan cukup. Namun bilik suara kita masing belum pasti karena belum di hitung secara detil." Demikian yang dikatakan oleh salah satu komisioner KPU Cianjur dari divisi logistik, Baban, belum lama ini.

Dirinya menambahkan bahwa, kotak suara yang saat ini berada di depan kantor KPU sudah tidak bisa dipakai pada pilkada nanti.

"Kotak suara yang ada di depan kantor KPU kondisinya sudah rusak dan tidak dapat dipakai lagi," tambahnya.

Baban menjelaskan, berdasarkan Undang-Undang bahwa apabila pelaksanaannya tidak bersamaan dengan pemilihan gubernur itu bisa 1 kotak suara.

"Kalau memakai jumlah TPS Pilpres yang jumlahnya 3.921 berarti totalnya hampir 8 ribu bilik suara. Mudah-mudahan bisa terpenuhi, namun apabila kurang harus melakukan pengadaannya," jelasnya. (FI)

Miftah, Buronan Kejaksaan Negeri (Kejari) Cianjur Berhasil Ditangkap

Pasundanradio.com - Buronan Kejaksaan Negeri (Kejari) Cianjur, Miftah (56) yang merupakan anggota DPRD Cianjur, berhasil ditangkap kembali. Miftah yang terkait tinfak pidana korupsi dana peradaban sempat kabur saat dilakukan pemeriksaan, Rabu (6/5/15) lalu.

Miftah ditangkap ketika berada dalam mobil pribadinya nopol F 1203 WS yang melaju dari arah Sukabumi menuju Cianjur, Kamis (28/5), sekira pukul 12.45 WIB, oleh tim Kejaksaan Negeri (Kejari) Cianjur bersama tim Kejaksaan Agung (Kejagung) RI.

Selama buron tersangka yang ditangkap di wilayah Warungkondang bersama sopir pribadinya pernah berada di Cirebon selama 10 hari. Dirinya pernah pulang ke Cianjur, dan juga pergi ke Bandung. Sampai akhirnya ditangkap tim Kejari setelah berada tiga hari di Cianjur.

Dengan menggunakan mobil Toyota Avanza warna hitam nopol F 1187 W, tim Kejari Cianjur, Miftah di bawa ke Kantor Kejari Cianjur, Jalan Dr Muwardi (Bypas) untuk dijebloskan ke ruang tahanan. Begitu tiba di halaman kejaksaan, pintu mobil terbuka terlihat Miftah dengan kondisi tangan diborgol.

Tersangka, sempat menolak untuk turun dari dalam mobil saat mengetahui penangkapan dirinya diketahui awak media. Namun, anggota komisi IV DPRD Cianjur dari fraksi Demokrat itu dipaksa turun oleh petugas dari Kejari Cianjur.

Tanpa alas kaki, dan tangan terbogol ke belakang, akhirnya Miftah dipaksa keluar dari mobil dan masuk ke ruang tahanan.

"Saya mau ke rumah rekan saya, Haji Ridwan. Tiba-tiba ditangkap di jalan. Selama ini saya ke Cirebon, ziarah. Ke Bandung juga, terus ke Cianjur lagi," kata Miftah, kepada wartawan.

Miftah menjelaskan, ia terpaksa melarikan diri, setelah melihat surat penahanan yang dilayangkan kepadanya saat pemeriksaan. "Saya kaget dan belum siap waktu itu," ucap.

Kajari Cianjur, Wahyudi menjelaskan bahwa pihaknya terus berkoordinasi dengan Kejagung untuk melakukan penangkapan terhadap tersangka tindak korupsi dana Desa Peradaban tahun 2012, ketika tersangka menjadi Kepala Desa Ciherang, Kecamatan Karangtengah.

"Kita terus ikuti gerak-geriknya sampai menemukan posisi pas untuk bisa mengamankan pelaku secara nyaman," ucap Wahyudi, Kamis (28/5).

Wahyudi menjelaskan, saat ini, tersangka sudah ada di Kejari, namun untuk penahanan, Wahyudi menjelaskan bahwa, pihaknya masih menunggu keputusan penyidik.

"Apakah nanti oleh penyedik ditetapkan seperti apa. Apa kita lepas atau kita tahan. Tergantung penyidik saja nanti," katanya.

Wahyudi enggan menyebut Miftah sebagai DPO, namun secara halus, Kajari menyebut Miftah "terus kami cari". "Dari titik ke titik terus kami ikuti," ujarnya. (FI)

Warga Gunung Padang Menolak Pembebasan Tanah Secara Bertahap

Pasundanradio.com - Warga sekitar situs megalitikum Gunung Padang, tepatnya di Desa Girimukti kecamatan Campaka, menolak pembebasan tanah secara bertahap. Pasalnya dengan pembebasan secara bertahap akan menimbulkan gesekan diantara warga tersebut.

Hal ini dikatakan oleh Zenal, salah seorang warga sekitar Gunung Padang. Menurutnya warga sekitar Gunung Padang menyambut baik rencana pembebasan tanah namun hendaknya rencana rencana tersebut dilakukan secara sekaligus.

"Rencana pembebasan tanah dalam dua tahap yang diawali seluas 15 hektar, akan menimbulkan konflik terhadap warga sekitar. Salah satu contoh ketika pembebasan tahap pertama akan merasa resah. Sedangkan bagi masyarakat yang masuk dalam tahapan ke dua akan tenang karena masih bisa tinggal disitu, " kata Zenal, Kamis (28/5/15).

Zenal menilai dengan adanya pembebasan tanah yang direncanakan dalam dua tahap akan menimbulkan ketidak harmonisan di kalangan warga, karena kemungkinan akan ada pembedaan harga jual tanah.

"Dampak lainnya juga yaitu akan menimbulkan perselisihan harga karena pada pembebasan yang pertama dengan yang berikutnya kemungkinan akan berbeda," jelasnya.

Selain itu juga, lanjut Zenal, hingga saat ini pihaknya bersama warga belum mengetahui secara rinci rencana pembebasan tanah dikarenakan tidak ada akses informasi baik ke pemkab, provinsi maupun pusat, terkait hal tersebut.

"Sejauh ini memasuki tahapan perencanaan dan persiapan pembebasan tanah saya kira selaku masyarakat Gunung Padang, belum cukup jelas. Kamipun tidak punya kontak person untuk masalah sosialisasi dengan pihak terkait. Misalnya kami membutuhkan informasi baik pusat maupun pemkab, sejauh ini kami tidak punya kontaknya," ucapnya.

Menurut rencana pembebasan tanah di kawasan situs Gunung Padang akan mencapai luas 29 hektar. Ini merupakan lokasi sebaran benda cagar budaya. (FI)

Mobil Sedan Terbakar Diduga Akibat Konsleting Mesin

Pasundanradio.com - Diduga akibat konsleting pada bagian mesin, sebuah mobil sedan Suzuki Estem dengan nopol E 1431 VA, terbakar tepat di depan Kantor Pos Cabang Cipanas, sekitar pukul 13.00 Wib, Kamis (28/5/15). Beruntung tidak ada korban jiwa dalam kebakaran tersebut.

Asep (40) salah seorang pedagang asongan yang saat itu berada di depan mobil menuturkan, api bermula keluar dari bagian kap mobil. Secara tiba-dia langsung berteriak kepada pengendara mobil bahwa ada api pada bagian depan mobil.

"Saya lihat api sudah keluar dari depan mobil. Saat melintas di depan istana, api masih kecil tapi di depan Kantor Pos sudah besar. Kami langsung teriak ke sopirnya," kata Asep.

Ditambahkannya, api yang keluar dari kap mobil tersebut semakin membesar disertai dengan gumpalan asap. Dengan cepat sopir tersebut langsung menepikan mobilnya dan segera keluar dari dalam mobil.

"Pas di depan Kantor Pos ini (kantor pos Cipanas, red) api sudah besar, trus sopirnya langsung keluar lari ke belakang mobil," tambahnya.

Para pedagang asongan yang ada di sekitarnya mencoba membantu memadamkan api dengan menyiram air. Tidak hanya pedagang yang membantu, personil Brimob pun datang dan membantu memadamkan api dengan APAR.

Warga yang penasaran lantas mengitari lokasi. Lalu lintas sempat mengantri, namun api sudah padam dalam waktu beberapa menit kemudian. 

Dudi (43) yang merupakan pemilik mobil mengaku tidak tahu ada api saat di perjalanan. Dirinya mengaku kaget karena waktu itu dirinya akan hendak pulang ke Cimacan.

"Saya dari Sukabumi setiap hari kerja, mau pulang ke Desa Cimacan di Kampung Lebak Pasar. Tidak ada tanda apa-apa sewaktu dijalan. Tahu-tahu ada yang teriak ngasih tahu ada api. Saya langsung nyisi dan matiin mobil, teus keluar cabut kap mesin," jelasnya.

Sementara itu Kanit Lantas Polsek Pacet, AKP. Tedi Setiadi mengatakan bahwa mobil tersebut terbakar diduga karena konselting listrik. "Kami menghimbau kepada para pengendara, jangan lupa untuk melakukan pengecekan kendaraan sebelum berangkat, ucapnya. (FI)

Jengkol Kemanakah ?

Pasundanradio.com - Bagi penikmat jengkol khususnya di Cipanas mungkin harus menahan diri. Pasalnya makanan yang dianggap sebagian orang sangat nikmat sudah beberapa minggu terakhir seolah menghilang dari pasaran.

Hal ini dikatakan oleh Sub Bagian Tata Usaha Pasar Cipanas, A. Suganda. Menurutnya sudah lebih dari satu minggu, jengkol sulit didapat.

"Ya sudah sekitar satu minggu susah didapat, kalau ada juga harganya lumayan mahal, bisa sampai Rp60 ribu perkilo," katanya.

Menurut pedagang, lanjut Suganda, kenaikannya bisa mencapai dua kali lipat. Mereka juga (pedagang, red) kesulitan mendapatkannya padahal peminatnya sangat banyak. "Biasanya harga jengkol paling Rp20 ribu perkilo. Tapi sekarang berlipat ganda," tambahnya.

Didin (27) yang merupakan salah seorang pedagang jengkol di Pasar Cipanas membenarkan hal tersebut. Menurutnya peminat jengkol cukup banyak sedangkan stoknya sangat terbatas.

"Biasanya dari lokal Cianjur juga ada, tapi sekarang susah didapat. Ini juga dari Lampung, jumlahnya juga sedikit karena lahanya di jadikan perkebunan sawit," jelas Didin.

Dirinya menambahkan, hal ini pernah terjadi ditahun sebelumnya namun tidak sesulit seperti sekarang.

"Kalau menghadapi bulan puasa biasanya lumayan banyak, tidak seperti sekarang. Tahun lalu juga bisa mencapai harga Rp80 ribu perkilo," ucapnya. (FI)

Tidak Keluarkan Izin Tapi Minimarket Tetap Dibangun

Pasundanradio.com - Masih maraknya keberadaan minimarket di Kabupaten Cianjur sangat dirasakan oleh warga. Keberadaan toko modern yang selalu bertambah dikhawatirkan bisa mematikan warung yang ada.

Sekretaris Serikat Rakyat Miskin Indonesia, Herman, mengatakan, tidak tegasnya pemkab dalam menerapkan aturan pendirian toko modern. Mereka menilai aturan pendirian toko modern di Kabupaten Cianjur tidak jelas sehingga marak pendirian toko modern baru.

"Ini akibat penegakan aturan yang tidak tegas dari pemkab. Sehingga para pengusaha dapat dengan mudah mendirikan toko modern dilokasi yang mereka inginkan," kata Herman, belum lama ini.

Pihaknya menduga sejumlah toko modern juga tidak dilengkapi izin. Padahal, jelas Herman, pemerintah sudah mempunyai regulasi terkait dengan pendirian toko modern dan sudah diatur secara jelas.

"Kita meminta agar instansi terkait menindak tegas toko modern yang diduga tak berizin untuk segera ditutup. Sebab, kenyataan dilapangan dalam beberapa bulan terakhir ini banyak bermunculan toko modern baru," ucapnya.

Sementara itu, Kepala Badan Pelayanan Perizinan Terpadu dan Penanaman Modal (BPPT-PM) Kabupaten Cianjur, Endang Suhendar menjelaskan, untuk periode tahun 2015, BPPT-PM Kabupaten Cianjur belum pernah mengeluarkan izin usaha toko modern (IUTM) kepada toko modern.

"Untuk tahun ini kita belum pernah mengeluarkan izin. Dan untuk toko modern yang buka sekarang, merupakan pengajuan tahun lalu," jelasnya. (FI)